Senin, 20 September 2010

SEPATU UNTUKMU part 2

Pukul satu siang jam pelajaran SMPN 3 KEDIRI sudah selesai. Arya berlari ke ruang guru untuk menemui Pak Gianto. Ketika sampai di ruang guru, ia melihat Pak Gianto sedang bersiap-siap pulang. Dengan hati-hati ia mendekati Pak Gianto.
“Selamat siang, Pak” sapa Arya dengan sopan.
“Selamat siang juga Arya. Apa ada yang bisa bapak bantu?”
“Saya mau tanya Pak, tentang seragam PASKIBRA” tanya Arya. “Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli seragam PASKIBRA, Pak?” lanjutnya.
“Kamu tenang saja. Seragam PASKIBRA, akan ditanggung sekolah.” jawab Pak Gianto.
“Apakah seragam tersebut termasuk sepatu juga Pak?”
“Untuk sepatu tidak termasuk dalam daftar perlengkapan PASKIBRA. Memang ada apa, Ar?”
“Tidak Pak, saya hanya bertanya” kata Arya.
“Arya kamu latihan PASKIBRA 2 hari lagi mulai jam 7 pagi hingga jam 2 siang selama 2 minggu.” Pak Gianto memberikan informasi yang terakhir.
“Kalau begitu terimakasih Pak, saya pulang dulu.”
Dengan langkah gontai, Arya berjalan pulang. Sampai di pintu gerbang ada seseorang yang menepuk bahunya.
“Hai Arya, selamat ya!” Nita dan Reza mengucapkan selamat sambil menjabat tangan Arya.
“Iya, terimakasih ya teman-teman”
“Aku salut deh sama kamu,” kata Reza memberikan semangat sekaligus memuji Arya.
“Terimakasih Nita, Reza. Tapi…….” Arya menunduk dan melihat lubang di sepatunya. Otomatis Reza dan Nita mengikuti pandangan mata Arya.
“Oh…. Gara-gara itu ya… Tenang aja aku akan pinjami sepatuku” tawar Reza setelah tau maksud pandangan Arya ke arah sepatumya. “Ukuran sepatumu berapa?”

“40” jawab Arya singkat dengan pandangan penuh harap.
“Yah, ukuranku 39. Terlalu kecil buat kakimu. Ukuran sepatumu berapa Nit?” tanya reza.
“Aku 38” seketika wajah Arya membeku. Ia merasa sudah tak ada harapan lagi. Mereka bertiga terdiam. Mencari solusi.
“Aku harus segera pulang. Masih banyak pekerjaan dirumah” celetuk Arya. “Kalau begitu aku pulang dulu teman-teman.”
“Iya. Kamu juga jangan khawatir tentang sepatu itu. Kami akan membantu sebisa kami,” kata Nita. Arya mengacungkan jempolnya dan begegas pulang.
Sampai di rumah ia segera mencuci piring dan membersihkan rumahnya atau lebih tepat gubuknya. Sebagian rumahnya berdinding bambu dan beratap seng. Tapi meski begitu ia senang tinggal di rumah itu. Mendiang emaknya pernah berkata, “Meskipun terbuat dari bambu dan beratap seng, yang penting rumah itu bisa melindungi kita. Di kala panas tak kepanasan dan di kala hujan tak kehujanan.”
Arya juga menyebut rumahnya tersebut dengan gubuk cerita. Karena, dulu waktu kecil, ia seringkali mendengarkan cerita pengantar tidur dari bapaknya. Hingga sekarang pun kadang-kadang ia meminta diceritakan salah satu cerita. Jika sudah begitu bapaknya akan mengeluarkan cerita-cerita bagus yang keluar dari ‘keranjang ajaib’ bapaknya.
Setelah selesai mencuci piring-piring kotor, ia duduk di depan rumahnya sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang kadang berhembus di tengah siang yang terik ini. Tak lama kemudian bapaknya pulang dengan senyum yang selalu dirindukan oleh Arya. Karena senyuman itu selalu tersungging meskipun bapaknya sedang sedih.
Dengan sigap Arya membantu bapaknya membawakan keranjang dan meletakannya di ruang belakang. Sekembalinya, ia tak lupa membawakan air minum untuk bapaknya.
“Terimakasih, Le. Gimana sekolahmu tadi?” tanya Bapaknya sambil mengelap keringat yang meleleh di dahinya.
“Baik-baik saja kok Pak.” jawabnya datar.
“Ada apa, to? Kok kayaknya kamu itu lesu sekali?” selidik bapaknya.
“Tidak apa-apa kok Pak” Arya berbohong. Ia tak ingin membuat bapaknya ikut bingung perihal sepatu satu-satunya yang bolong. Meskipun begitu, bapaknya tahu bahwa Arya mempunyai masalah. Namun, beliau tak ingin memaksa putra semata wayangnya itu untuk menceritakan. Suatu saat nanti, Arya pasti akan bercerita sendiri tanpa diminta. Begitulah sifatnya.
“Pak,tadi ada pengumuman kalau Arya lolos seleksi menjadi peserta PASKIBRA tingkat kota mewakili sekolahan Arya,” cerita Arya
“Wah, bener to, Le? Bapak bangga sama kamu.” kata Bapaknya dengan senang. Suasana hening sesaat. “Andai saja Emakmu masih hidup, Emak kamu pasti akan senang sekali mendengar berita ini.”
Arya jadi teringat Emaknya lagi. Emak yang telah melahirkannya 14 tahun yang lalu. Pada umur 10 tahun, IA ditinggal emaknya menghadap Sang Kholik. Emaknya meninggal karena menjadi korban kebakaran sebuah pabrik tempat emaknya dulu bekerja.
“Sudah dulu ya Le, Bapak mau istirahat dulu” suara Bapak membuyarkan lamunannya.
“Inggih Pak” sahutnya. Setelah itu bapaknya berjalan masuk ke kamar untuk beristirahat. Tak lama kemudian Arya juga masuk ke kamarnya. Ia membuka pintu lemari kecil yang ada di kamar itu. Diambilnya celengan berbentuk jago yang terbuat dari tanah liat. Kemudian digoncang-goncangkan dan terdengarlah bunyi nyaring menandakan isinya hanya sedikit. Sebenarnya tak usah diguncang pun Arya sudah tahu, celengan itu sedikit isinya, bobotnya sangat ringan, sudah lama tak diisi. Ia terdiam menatap lobang tabungannya yang seolah mengolok, “Gimana mau penuh lha wong kamu jarang ngasih aku ‘makan’” (TO BE CONTINUED)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar