Kamis, 09 Juni 2011

Hujan

Ketika sang fajar mulai kembali keperaduannya, gadis itu hanya memandangnya dengan sendu. Ia tergugu, sejenak kemudian menyeka butiran air yang jatuh dari pelupuk matanya. Dipeluk lututnya seolah lutut tersebut memberi sedikit rasa nyaman diantara kesakitan yang dia rasakan. Punggung kecilnya terlihat lembut layaknya seorang remaja yang bahagia namun ternyata tangguh dalam menerima cobaan berat. Dan ketika surya telah terlelap, dia bangkit bersama dengan angin yang berhembus.

*****

“Ocha..!!” teriakan nyaring Candy membuyarkan lamunan Ocha, adik semata wayangnya.
“Apaan sih kak?? Libur juga..” teriak Ocha tak kalah nyaringnya.
“Sini... turun kakak mau bicara sama kamu.” suara Candy agak sedikit melunak. Dengan langkah malas Ocha bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ruang makan. Di ruang makan pun kakaknya terlihat sibuk dengan spaghetti yang disiapkannya sebagai makan siang. Sambil membawa orange juice dia mengambil piring dan duduk dimeja makan.
“Ada apaan sih kakak???”
“Kemarin papa kirim SMS ke aku” Candy berbicara sambil menyendokkan spaghetti ke piring adiknya.
“So?”
“Kita akan pindah ke Jakarta!!!”
“WHAT!!!!”
gelas orange juice Ocha hampir saja jatuh. “Gak bisa kak!!! Masa kita mau ninggalin Jogja gini??? Mana Ocha bentar lagi mau kelas 2 SMA!! Gak ahh.. lagian kita di Jogja ini gak sendiri kan... ada eyang putri, eyang kakung, tante Elsa, dan juga Oom Bimo!!” suara Ocha meninggi.
“Heyy... don’t be angry!! I told him about that  reason but this is the last decision!!” jawab Candy.
“Halah sok nginggris.” cibir Ocha.
Sementara tak ada sahutan lagi yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
“Ini tentang Kak Tora” kata Candy hampir tak terdengar memecah suasana. Ocha masih tak peduli namun dia memperhatikan wajah kakaknya melalui sudut matanya. Ada raut kesedihan yang terlukis dari wajahnya. “Kak Tora sakit parah, Cha.”
Seketika Ocha terbelalak mendengar berita tersebut. Jantungnya serasa berhenti mendengar kakak sulungnya menderita sakit parah. “Sakit apa kak???”
“Papa nggak jawab”
“Kita jenguk sekarang ya???”
“Papa nggak ingin kita Cuma jenguk Cha, Papa ingin kita pindah nemenin kak Tora. Karena papa juga sibuk. Sedangkan mama gak mungkin ngurus kak Tora sendiri.”
Ocha terdiam membisu. Memejamkan mata. Dia teringat akan masa kecilnya yang dia habiskan di Jakarta bersama Papa, Mama, kak Tora, dan juga Kak Candy. Dia ingat bagaimana dulu kak Tora menemaninya setiap malam ketika dia sakit, ingat ketika kak Tora menggendongnya ketika dia terjatuh setelah dikejar oleh teman SD-nya, Ocha juga ingat ketika dia tertawa bersama kak Tora sambil membangun istana pasir di pantai, dia juga masih ingat usapan lembut kak Tora yang mengusap air matanya ketika dia menangis saat Candy menghancurkan istana pasirnya. Perlahan mata Ocha terasa panas, air mata yang ada tak bisa dibendung lagi.
Candy pun menghampiri adik semata wayangnya itu dan memeluknya. Mengusap rambutnya dan coba menenangkannya. Kemudian Ocha mendongak, “Kak, kita pulang ke Jakarta sekarang ya...”

*****

Malam itu suasana Bandara Cipto Mangunkusumo terlihat sepi. Sambil menunggu penerbangannya, Candy membaca kembali bukunya untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi. Sedangkan Ocha sibuk dengan handphonenya. Di sisi lain terlihat Oom Bimo dan tante Elsa yang mengurus koper yang akan dibawa oleh Candy dan Ocha.
Ketika jam menunjukkan pukul 10 tepat Ocha dan Candy berangkat. Oom Bimo, tante Elsa dan Eyang melepas kepergian Candy dan Ocha. Dan ketika pesawat sudah take off Candy berjanji pada dirinya “I’ll visit you later Jogja, we will miss you so much

*****

Candy dan Ocha duduk di salah satu bangku yang ada sambil menunggu papa dan mamanya menjemput. Sesekali mulut Candy menguap pertanda rasa kantuk menyerang. Diliriknya sang adik yang tidur pulas dipangkuannya dan diusap rambutnya penuh kasih sayang.
Tak berapa lama kemudian Candy mendengar seseorang memanggil namanya dipanggil. Dia memakai kacamatma yang sebelumnya dia sampirkan di atas kepalanya. Sambil mengfokuskan pandangan dia yakin itu adalah suara kakaknya, Tora.
“Cha, bangun. Kak Tora udah dateng buat jemput kita tuh” Candy mengguncangkan tubuh Ocha. Seketika Ocha bangun mendengar kata ‘Tora’ disebut. Dengan tergesa Ocha merapikan rambutnya. Dari kejauhan dilihat kak Tora berjalan dengan tergesa. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya juga lebih kurus dari terakhir yang dia lihat.
Ocha berlari kearah Tora, dipeluknya tubuh kurus kakaknya erat-erat. Tak terasa air matanya kembali mengalir.
“Lho.... Kok nangis Cha???” Tora mengusap air mata di pipi Ocha.
“Gak papa kak.... Ocha kangen aja sama kakak. Ocha kangen kakak. Ocha aja terakhir ketemu sama kakak lebaran tahun lalu.” ucap Ocha sambil menangis. “Sekarang Ocha udah deket sama kakak, kakak jangan tinggalin Ocha ya.”
Tora mempererat pelukannya, “Iya. Kakak janji buat selalu ada buat Ocha kok.”
“Janji ya kak???” Ocha mengacungkan jari kelikingnya.
“Iya kakak janji Cha” Tora membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya dan tersenyum.
“Ehem..” Candy berdehem di dekat Tora dan Ocha. “Sekarang boleh gantian nggak pelukannya???”
“Eh kak Candy, boleh kok kak...”
“Sini Can, kakak peluk.” goda Tora sambil merentangkan tangannya.
“Kirain dah lengket sampe gak bisa lepas” ujar Candy diiringi derai tawa Ocha, Tora Mama, dan Papa bahkan pak Maman supirnya pun ikut tertawa.
“Yuk pulang. Kasihan si Mbok sendiri di rumah” kata Mama.

*****

“Gimana kabar Eyang, Oom, sama tante?” tanya Papa sambil sarapan.
“Baik kok pa..” jawab Candy. “Tumben ni si Ocha gak berisik. Kemana Ma?”
“Tuh di taman belakang. Lagi main sama kak Tora” Mama menjawab sambil menuangkan susu ke gelas Candy.
“Can, papa dan mama ingin bicara sama kamu, sebentar.” raut wajah Candy berubah. Dia tahu arah dari pembicaraan ini.
“Tentang kak Tora?” ucap Candy pelan.
“Iya. Can, papa sama mama ingin kamu jangan langsung kuliah dulu ya. Papa  minta kamu jagain kakak kamu dulu. Prediksi dokter murnya sudah nggak panjang lagi Can. Cuma  3 bulan”
“Pa! Jangan bilang begitu kenapa? Umur tuh yang tentuin Tuhan. Bukan dokter pa!” mata Candy mulai terasa panas.
“Tapi apa kamu gak lihat keadaan kakak kamu Can? Dia udah lemah. Memang dia masih bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi apa kamu tega juga? Bagaimana kalau kakak kamu kenapa-kenapa??” Candy terdiam. “Kalau gak sepenting ini. Papa dan mama nggak akan suruh kamu dan Ocha buat pindah ke Jakarta!”
“Kami ingin kakak kamu dapat yang terbaik Cha. Kami juga masih ingin bersama Tora. Kami sayang Tora, kamu dan Ocha.” suara mama melunak.
“Sebenernya Kak Tora sakit apa ma?”
“Kanker.” Jawab papa singkat.
Mendengar jawaban itu Candy terperanjat. “Kanker?” ulangnya. “Papa dan mama gak bercanda kan??”
Papa menggeleng pelan. “Stadium 4, Can. Kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Maka dari itu sudah tidak ada lagi harapan buat Tora. Meskipun mama juga ingin terjadi suatu mukjizat kepada Tora.”
Candy hanya termenung. Dia berdiri kemudian naik ke lantai dua. Papa dan mama hanya memandang sedih.
Sulit bagi Candy menerima kenyataan ini. Kakak yang disayanginya menderita penyakit yang seumur-umur tidak pernah dia bayangkan. Candy mengira kakaknya hanya menderita penyakit parah namun bukan macam kanker yang sanggup merenggut kehidupan kakaknya. Sekali lagi air matanya tumpah.
Dari jendela kamarnya terlihat Tora sedang bermain dengan Ocha. Wajahnya pucat namun tersirat kebahagiaan diantara senyum dan derai tawanya. Candy tersenyum. Kini hatinya mantap untuk menjaga kakak tercintanya itu.

*****

“Oke Cha, Sampai ketemu di rumah.” Candy mengantarkan adiknya ke sekolahnya yang baru. “Oke. Habis ini kita ngapain?” tanya Candy ke Tora.
“Terserah kamu. Kamu kan baru datang.”
“Pulang aja yuk,” ajak Candy.
“Wah masa baru sampai di Jakarta Cuma buat tidur aja”
“Pengen aja di rumah aja kakak”
“Kalau begitu biar kakak yang pegang kemudi”
“Wah emang bisa?” cibir Candy.
“Bisa dong” Tora turun dari mobil dan pindah ke belakang kemudi.
“Sekarang adek harus nurut kakak!” perintah Tora kepada Candy.
“Siap komandan!” hormat Candy dengan gaya lucu dan sukses membuat Tora tertawa.
“Sip! Pasang sabuk pengaman erat-erat.” begitu melihat sabuk pengaman Candy sudah terpasang Tora langsung menginjak pedal gas.

*****

“Baiklah anak-anak kali ini kita kedatangan murid baru. Ocha silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu” Bu Asih wali kelas Ocha yang baru memanggil Ocha untuk masuk ke dalam kelas.
Dengan malu-malu ocha masuk. “Hai teman-teman. Nama saya Chocolate Chacha Junanto. Bisa dipanggil Ocha atau Chacha. Salam kenal”
“Coklat Chacha, lo ngiklan ya???” celetuk salah satu siswa yang sukses mengundang gelak tawa seisi kelas.
“Aditya.. Sekali lagi kamu jahil akan ibu beri hukuman mengerjakan soal matematika 3 bab tanpa terkecuali!”ancam bu Asih. “Oke. Cha, kamu duduk dengan Evan ya” Bu Asih menunjuk sebuah bangku kosong disebelah Cowok yang sedang sibuk menekuri bukunya.
“Terima Kasih, Bu” Ocha berjalan pelan menuju bangku yang ditunjuk oleh bu Asih tadi.
“Oke anak-anak buka buku matematika halaman 343. Kerjakan no. 1 dan 2 kemudian bawa kedepan” perintah bu Asih.
Ocha melirik cowok bernama Evan disebelahnya. ‘Lumayan juga tampangnya’ batin Ocha. “Aku Ocha” Kata Ocha sambil mengulurkan tangan kearah Evan.
“Evan” Katanya sambil sedikit tersenyum dan membalas uluran tangan Ocha.
“Senang kenalan sama kamu. Sekolah disini enak gak?”
“Sebentar ya” Evan bangkit dari kursinya dan menuju kursi bu Asih untuk mengumpulkan tugas. “Sip.. Sudah free nih. Oke kamu tadi tanya apa???”
“Van.. ajarin matematika dulu nih. Habis itu nanti kita ngobrol lagi” Pinta Ocha dengan wajah memelas.
Evan tertawa lirih, “Okelah.” Evan mulai memberikan les singkat untuk Ocha, teman barunya. Tiga puluh menit kemudian setelah sebuah kertas putih penuh dengan coretan angka dan rumus mereka kembali melanjutkan obrolannya.
“Sekolah disini enak nggak?” Ocha mengulang petanyaannya.
“Masalah enak atau nggaknya sih itu relatif...” Evan membersihkan kacamatanya. “..tapi bagiku sekolah disini menyenangkan.”
“Apa enaknya?”
“Fasilitasnya lengkap, jaringan wi-fi nya juga asik, perpustakaan koleksi bukunya juga lengkap banget dan banyak ekstrakulikuler yang siap dipilih.”
“Kayaknya seru sekolah disini ya. Semoga aku betah” Harap Ocha.
“Pasti betah” Evan terseyum kembali.

*****

“Nah, kita udah di rumah eneng geulis. Buka matanya dong” Tora mengguncang bahu adiknya.
“Haaahhhh... Gila lo ya. Gue bilangin mama tau rasa ntar! Jalanan bukan sirkuit tahu!” tawa Tora meledak mendengar adiknya marah.
“Hahaha iya ini yang terakhir deh” Tora mengusap kepala Candy. “Mau apa sih di rumah? Gak ada apa-apa.”
“Pengen nonton film aja”
“Okelah” Tora mengikuti langkah adiknya yang masuk ke rumah.
Tora menuju kamar mandi. Sesaat dia terbatuk dan dilihatnya darah keluar dari mulut dan hidungnya. Diraihnya tissue yang berada disebelah meja kamar mandi dan dilap-nya.
Melalui pintu belakang Tora mengendap keluar menuju kamarnya. Di bukanya laci sebelah tempat tidurnya, namun obat yang dicarinya tidak ketemu. Darah terus menetes dari hidungnya,  penglihatannya semakin kabur dan akhirnya dia tak ingat apa-apa lagi.

*****

Dibukanya kelopak matanya dengan lemah. Tora tampak asing dengan sekitarnya. Dirasakannya tangannya digenggam oleh seseorang. Perlahan dia bangun dan dilihat Candy tidur disampingnya. Dibelainya rambut Candy.
‘Maafin kakak, Can. Gara-gara kakak, kamu dan Ocha jadi ikutan repot. Cukup kakak yang sakit dan repot dengan penyakit sialan ini” batin Tora. Tak berapa lama kemudian Candy terbangun.
“Kak Tora udah sadar. Candy panggilin dokter ya.” Candy beranjak dari tempat duduknya.
“Nggak usah Can. Besok pagi aja. Mama, Papa sama Ocha mana?”
“Tidur di Sofa tuh. Si Ocha di rumah sama bibi soalnya kan besok ke sekolah Kakak istirahat lagi ya.” pinta Candy ke Tora.
“Kamu aja yang istirahat.” Tolaknya.
“Jangan bandel ya kakak. Tidur!” Candy memasang tampang galak.
“Hahaha.. Iya bu Boss.” Tora merebahkan tubuhnya lagi.
“Candy tuh gak mau kakak kenapa-kenapa. Candy sama Ocha kan sayang kakak. Karena kita pengen liat kakak seneng dan gak sakit kayak begini” Tora terpana mendengar kata-kata adiknya. ‘Kakak bakal terus sama kalian kok’

*****

“Bapak dan Ibu Junanto” tanya seorang suster ketika papa dan mama Candy membenahi baju Tora di kamar.
“Iya sus, ada apa?” jawab mama.
“Dokter ingin bicara dengan bapak dan Ibu. Ikuti saya ya” papa dan mama berjalan dibelakang suster.
Suster membuka pintu dan mempersilahkan masuk. “Silahkan bapak dan ibu duduk” Seorang dokter muncul dari pintu putih dibelakang meja kerjanya.
“Ada apa dok?”
“Sebaiknya bapak dan juga ibu membiarkan Tora agar terus dirawat di rumah sakit ini agar kami terus bisa mengontrolnya. Serangannya kemarin itu merupakan yang terparah. Untung saja dia segera di bawa ke rumah sakit. Jika tidak, mungkin sekarang ini Tora sudah tidak terselamatkan.” Kali ini dokter membaca sebuah rekapan medis. “Waktu Tora sudah tak lama lagi. Tubuhnya semakin lemah. Saya harap jangan membuat dia semakin stress.”
‘BRAAKK’ pintu konsultasi dokter terbuka.
“Kalian Bohong!! Kak Tora gak akan pergi!!” air mata Ocha merebak.
“Cha, tenang” Mama menghampiri Ocha yang masih memakai seragam sekolahnya.
“Kak Tora udah janji gak akan ninggalin keluarganya! Kalian semua Cuma pembohong!” Ocha berlari mencari Tora. Saat ini dia ingin bersama Tora. Bersama kakaknya bersama Candy juga. Hatinya kecewa begitu tahu kalau umur Tora sudah tak lama lagi.
“Kakak....” dipeluknya Tora. “Jawab bohong ya kak.. kakak memang nggak sakit kanker dan gak akan ninggalin kita kan?” Tora hanya terdiam.
“Kak Candy pasti juga tahu. Nggak kan??” Ocha mengguncang tubuh Candy.
“Wah.. Ocha bawa temen ya? Siapa tuh?” Candy mencoba mengalihkan pembicaraan.
Evan yang melihat hal ini hanya bisa mematung di depan pintu. Seolah satu pikiran dengan Candy, Evan menyahut, “Saya Evan kak, teman baru Ocha.”
“Alah! Kakak gak usah sok mengalihkan pembicaraan. Jawab kak!” seru Ocha penuh emosi.
Candy menuntun Ocha ke Sofa, dipandanginya wajah adiknya yang memerah karen menangis. “Cha, kamu jangan egois begitulah. Semua manusia pasti ada takdirnya sendiri-sendiri”
“KAKAK PEMBOHONG!” Ocha berlari ke luar. Dia tak tahu akan kemana. Dia hanya ingin pergi dari sana. Dia hanya ingin menghindar dari kenyataan bahwa kakaknya memang sudah tak ada harapan. Ocha sebenarnya tahu kalau kakaknya sakit kanker saat mencuri dengar pembicaraan papa dan mama saat dia pertama tiba di rumah. Hatinya sakit tapi dia menahannya. Sekarang dia hanya menangis diantara keramaian. Kakinya merasa saki dan dia berhenti di salah satu halte.
Tiba-tiba seseorang menyampirkan jaket ke tubuhya, “Evan....”
“Nih, ada teh hangat buatmu” Evan mengulurkan sebuah gelas plastik yang disambut dengan Ocha.
Setelah dikiranya suasana agak melunak Evan kembali berbicara, “Sebenarnya ada apa? Mau cerita biar agak baikan?” Evan duduk disamping Ocha.
“Aku sedih. Kakak yang udah jaga aku sedari kecil harus pergi dalam keadaan seperti ini. Sebenarnya lebih tepat aku menyesal, kenapa aku dulu mau pindah dengan kak Candy kalau pulang-pulang aku harus menyadari kalau aku pulang untuk menemani kakakku yang gak lama lagi umurnya. Aku juga benci semua orang, mereka baru menceritakan semua ini sekarang. Bahkan kak Candy juga. Aku udah bukan lagi anak SD yang bisa dibohongin dengan sebatang lolipop.” Ocha menghapus air matanya dengan tissue yang disodorkan oleh Evan.
“Kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Hal seperti itu yang membuat kita kadang marah dan jengkel. Tapi pernah gak kamu mikirin hal selain kamu? Misalnya nih ya, ‘aku beruntung, kakak sudah dapat pertolongan yang terbaik meskipun tidak seperti yang aku inginkan karena orang tuaku mampu. Gimana dengan orang yang tidak mampu? Seharusnya aku banyak bersyukur.’” Ocha menyimak sambil menunduk namun hatinya membenarkan perkataan Evan.
“Kamu emang benar, kita nggak boleh memprediksi umur seseorang karena umur itu sepenuhnya milik Tuhan. Tapi kamu juga harus logika. Melihat kondisi kakakmu yang saat ini lemah, kamu harusnya buat kakak kamu bahagia. Bukan malah seperti ini, kamu juga tahu kan kakak kamu dan juga semuanya sayang sama kamu. Kalau seperti ini semuanya juga ikut sedih kan? Bahagiakan kakak kamu selagi kamu bisa dan kakak kamu merasakannya. Karena kita juga gak tahu kapan tuhan akan menghentikan umur kita.”
Ocha hanya terdiam. Dia memikirkan semua perkataan Evan. “Yuk pulang, pasti semua sudah menunggu.” ajak Evan.
Sepanjang perjalanan Ocha hanya membisu. Pertanyaan Evan hanya dijawab dengan nggukan dan gelengan.
“Van, kamu kok bisa bicara seperti tadi”
“Itu karena...” Evan menggantung kata-katanya.

*****

Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Hidup itu singkat. Suatu kesalahan di masa lalu tak kan bisa kita ubah dengan kembali karena jam kita bukanlah jam pasir ajaib, hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba lebih baik dan tak terperosok di lubang yang sama di masa depan.
Menjadi manusia yang sabar dan tabah serta tak lupa bersyukur merupakan kuncinya. Hal itulah yang dipegang oleh Ocha. Membuat kakaknya tersenyum, merawat kakaknya disela kesibukan sekolahnya, dan mencoba berdoa demi kesembuhan kakaknya dia lakukan meskipun dia tahu kadang itu mutahil.
“Aku pernah marah pada kakakku. Dan saat aku kembali untuk meminta maaf, hal tersebut sudah sia-sia karena kakakku sudah pergi. Sejak saat itu aku terus merasa bersalah karena aku tak bisa melihat senyumnya yang terakhir. Mengurung diri dan menjadi tertutup merupakan pelampiasanku. Namun, lama kelamaan aku sadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Kakak akan sedih bila melihatku seperti ini. Aku mulai bangkit dan mencoba membahagiakan orang tuaku. Karena aku tahu seberapapun inginku kembali ke masa lalu, itu tak akan bisa” Cerita Evan di mobil yang membuka hati Ocha. Dan kini Ocha sudah cukup bahagia karena dapat membuat kakaknya bahagia di detik akhir hidupnya.
“Cha, ini surat dari kak Tora sebelum dia meninggal dan meminta mama yang memberikannya untukmu” Ocha menerima amplop biru bertuliskan namanya. Perlahan dia robek dan dibukanya sebuah kertas. ‘Tulisan kak Tora’ batinnya.
Sesaat kemudian hujan turun dan dingin pun menyergap. Namun, Ocha tersenyum, hatinya merasa hangat karena dia tahu kak Tora sedang bersamanya.

*****

Jakarta, 03 Mei 2011
Dear Ocha,
Kakak masih ingat dulu waktu kamu lahir. Kakak dan Candy bahagia banget. Tiap  saat kami selalu tanya ke mama, kapan kamu akan bangun. Waktu Candy sakit dulu kakak juga ingat Cuma kamu yang panik, kenapa sudah dua hari Candy nggak bangun. Yang paling kakak ingat waktu perayaan ulang tahun kakak yang ke-17. Kamu beri kakak hadiah yang sampai sekarang masih kakak ingat. Batik yang kamu buat bertuliskan nama kakak diatasnya dan kejutan-kejutan lainnya.
Kakak bersyukur punya adek yang baik seperti Ocha. Adek yang pengertian dan manis. Terima kasih Ocha sudah buat kakak bahagia. Terima kasih Ocha sudah membuat kakak tersenyum lagi.
Waktu kakak sudah gak lama Cha. Kakak harap nantinya kamu yang menjaga papa, mama dan Candy. Jangan bantah lagi apa yang dikatakan mama dan papa. Meskipun nanti kakak nggak bersama kamu tapi kakak akan selalu ada dihati kamu. Ingat, dulu kakak pernah bilang kalau kakak suka banget sama hujan. Karena hujan dapat membangkitkan kenangan kakak bersama keluarga. Jadi, ketika kamu melihat hujan maka hatimu akan merasa hangat karena saat itulah kakak sedang menghangatkan hatimu.


Tora.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar